Bisnis ala Temasek dan Singapura
Menukil dari tulisan nufieiman, bertitel “Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan Kita”
Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf) masih rent seeking dan kurang kreatif.
Calon orang-orang terkaya masa depan itu berangkat bukan dari …
Lantaran dalam tulisan tsb menyinggun masalah keberadaan perusahaan Temasek, maka menarik kita simak:
Temasek, adalah model bisnis yang sangat bagus. Temasek merupakan ramuan antara talenta bisnis, visi strategik, dan kekuatan politik yang rancak.
Mereka mengumpulkan aset yang nilai intrinsiknya di bawah nilai pasar, lalu dibeli dan dipoles, sampai harganya membumbung tinggi.
Kendati mengendalikan portofolio senilai lebih dari $80 milyar, sejak
ditangani Ho Ching tahun 2002, organisasi Temasek bisa dibilang plain
dan simpel. Sangat efisien. Temasek cuma punya tiga senior managing
director dan delapan managing director. Mereka inilah yang
berburu aset-aset strategis untuk dibeli — terutama di luar negeri. Mereka
membeli perusahaan-perusahaan yang “nampak” kurang sehat dan mengambil dengan
proporsi yang sangat besar sehingga memegang kontrol pengambilan keputusan.
Direksi Temasek juga merupakan tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan
dan politik, seperti S Dhanabalan, Kua Hong Pak, Koh Boon Hwee dan Kwa Chong
Seng, Lim Siong Guan, Sim Kee Boon, yang sangat berpengaruh dan dipercaya oleh
pemerintah. Mereka juga menjadi direktur di perusahaan pemerintah lainnya. Di
Temasek, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas persetujuan Presiden
Singapura. Jelas, operasional Temasek sangat terbantu oleh kekuatan politis
ini.
Talenta bisnis orang-orang Temasek juga jempolan. Sebutlah Kua Hong Pak,
direktur PSA sekaligus orang dekat Lee Hsien Loong; Goh Yew Lim, direktur
Direktur CIMB-GK Pte Ltd; dan tak kalah penting, Ho Ching, mantan dirut
SingTel, executive director Temasek, dan istri Lee Hsien Loong.
Temasek juga punya eksekutif dengan latar belakang mumpuni, misalnya Simon
Israel (Sara Lee Corporation/Danone), Manish Kejriwal (McKinsey), Frank Tang
(Goldman Sachs), Francis Rozario (Citibank). Wajar kalau Temasek selalu dapat
yang terbaik: BII,
Danamon,
Telkomsel, Indosat, atau Astra.
Kitangnya Temasek tak melakukan assessment terhadap risiko politik
yang mungkin dihadapi. Temasek terlalu naif berinvestasi hanya dengan melihat
aspek finansial — apalagi masuk di negara berkembang yang sarat dengan
gonjang-ganjing politik. Mereka mungkin lupa bahwa jaminan hukum dan iklim
bisnis yang kondusif tak selalu ada dan terjaga. Ho Ching juga punya reputasi
tukang bikin bangkrut saat membeli produsen harddisk Micropolis sampai nyaris
dipecat dari SingTel. Beliau juga membuat blunder terkait dengan pembelian
Shin Corp di Thailand baru-baru ini. Ho juga orang yang tertutup, tak
bersahabat, dan sulit dimengerti.
Manuver Temasek dan Singapura Sekarang
Temasek kini juga
mencengkeram Astra.
BusinessWeek menyebut Astra perusahaan terbaik 94 di Asia dan terbaik kedua di
Indonesia (setelah Telkom). Lini bisnis Astra juga berkibar di
berbagai sektor, sebutlah Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG
Life, Asuransi Astra Buana, Federal International Finance, Astra Credit
Company, sampai
Bank Permata.
Proses akuisisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak krisis. Tapi puncaknya
mungkin tahun 2003 ketika 39,5% saham Astra dijual BPPN ke konsorsium Cycle &
Carriage Mauritius yang dimodali DBS. Mereka kemudian terus menambah
kepemilikannya di Astra. Sekarang, 50,11% saham Astra dikuasai Temasek lewat
Jardine Cycle & Carriage (JCC) — perusahaan yang sebenarnya dulu pernah akan
dibeli Astra Otoparts. Dengan pendapatan Rp 55 triliun, Astra jadi mesin uang
buat Temasek.

Yang paling kita “suka” dari Temasek, ia bisa memasuki bisnis agro,
otomotif, alat berat, infrastruktur, telekomunikasi, keuangan dan menguasai
pangsa pasar yang disentuhnya. Tapi hebatnya, manuver
Temasek begitu
rapi, bertahap, dan low-profile. Nyaris tak terdengar.
Ironisnya, pelaku pasar kebanyakan kurang “ngeh” dengan manuver
Temasek. Repotnya lagi, kita lantas terbuai bahwa kalau perusahaan dikuasai
imperium Temasek,
dijamin pasti bawa untung. Sejak 2004 Temasek
memang banyak berburu di luar Singapura, dan hampir
seluruhnya di sektor jasa keuangan dan telekomunikasi. Investasi terbesarnya
antara lain BII, Danamon, Bank of China, Stanchart, dan Shin Corp. Silent
expansion ini menyiratkan ambisi Singapura untuk menjadi
financial hub di kawasan Asia: menguasai perbankan,
mengendalikan telekomunikasi. Ke depannya, sektor apa sih yang bisa lebih “hot”
dari dua industri itu?
Dan yang tak boleh diabaikan, ingat kasus
transaksi derivatif Indosat? Temasek sampai mendatangkan mantan wakil
Menteri Pertahanan Amerika untuk melobi pejabat-pejabat Indonesia.
Tangan-tangan Temasek juga menggerayangi wartawan untuk mempengaruhi
pemberitaan di media. Beberapa kasus yang membuat nama Temasek negatif seperti
ini membuat mereka memasang Myrna Thomas sebagai managing director for
corporate affairs untuk menetralisir persepsi orang. Belakangan fungsi
kehumasan ini dianggap lebih strategis karena mereka memang banyak berekspansi
ke luar negeri. Nama “temasek” sebenarnya mengacu pada “sea town”
atau nama purba Singapura. Lucunya, gara-gara
sumpah Mahapatih Gajah
Mada, Singapura (Tumasik) dulu pernah berada di bawah kekuasaan Nusantara.
Sekarang, terlalu naif membandingkan
negeri ini dengan
Singapura. Walau cuma sebesar Jakarta, Singapura merupakan negara ke-17
terkaya di dunia. Repotnya, kendati mengeruk duit di Indonesia, Singapura
terkenal
kurang ramah terhadap negara kita.
Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat (Singapura)
Teorinya, membangun negara harus bertumpu pada infrastruktur untuk
kemaslahatan umat. Di Amerika, mereka justru pertama-tama membangun rel kereta
agar mobilitas rakyat (terutama menengah ke bawah) lancar dan menggerakkan
kegiatan perekonomian serta pertumbuhan. Walau dicap kapitalis, mereka
sebetulnya sangat berorientasi pada rakyat kecil. Jepang dan Eropa juga
demikian. Di Indonesia justru terbalik keadaannya. Kita malah memprogram jalan
tol 1000 km dan mengabaikan kereta api. Yang diuntungkan jelas para penggede,
bukan rakyat kecil.
Saat sekarang, makroekonomi sudah beranjak pulih. Namun
perusahaan-perusahaan bagus milik bangsa ini sudah kadung diambil
(mayoritas) oleh Singapura. Sementara pembangunan, seperti tersebut di atas,
tak berorientasi ke rakyat kecil. Jadi, lengkaplah
sudah kesialan kita. Sementara kita tak sadar malah ber-haha-hihi
mengikuti Tukul mengolok-olok diri sendiri. Lihat ilustrasi berikut.

Kembali ke orang-orang terkaya tersebut di atas, hubungan Sandi dengan
keluarga Soeryadjaya memang sudah sejak lama. Sandi pernah menangani
perusahaan Edward (kakak Edwin) di Canada. Sandi dan Edwin pernah membangun
situs e-marketing rumah123.com. Boleh jadi Sandi ada di bawah
bayang-bayang Edwin. Sedangkan Patrick adalah menantu Teddy Rachmat, mantan
petinggi Astra.
Rosan P Roeslani adalah teman dekat Sandi. Mereka sangat dekat dengan Astra
dan keluarga Soeryadjaya, anak pendiri Astra.
Sementara Astra, kita tahu, sudah dikuasai Temasek. Keluarga orang-orang
terkaya lainnya — baik angkatan lama atau angkatan muda — juga dekat dengan
lingkaran ini. Pendek kata, pemilik aset-aset strategis negeri ini kalau bukan
Singapura ya orang-orang Indonesia yang dekat dengan Singapura.
Jadi, salahkah kita kalau berteori bahwa masa depan
negeri ini sebenarnya ada di tangan Singapura? Mudah-mudahan sedikit
coretan ini bisa memotivasi pembaca sekalian — agar tak cuma berpacu mengejar
kekayaan, tetapi juga memperjuangkan nation pride.
Kita, Anda, siapa pun juga pasti pengen jadi kaya. Masalahnya siapa yang ingin
memulai dan siapa yang cuma ingin mengamati, atau ngrasani saja?
Jujur saja, kita lebih senang bertransaksi dengan orang kita sendiri; yang
jelas-jelas
mengembalikan sebagian keuntungannya buat fakir miskin dan anak yatim. Tapi
mau gimana lagi
dan ini tulisannya nofieiman?
Komentar oleh Amir Karimuddin — 23 Nopember, 2007 @ 10:59 am
Terimakasih mas Amir, atas bantuan mas. Akhirnya saya mendapatkan sumber tulisan tsb.
Komentar oleh malangnet — 23 Nopember, 2007 @ 11:18 am
Skema itu sungguh fantastis. Dan sekaligus lucu. Saya kira banyak orang masih ingat ketika Laks menjadi mentri dan ketua BPPN. Lucunya ketika Laks dulu dipecat Gus Dur, konon ulah Gus Dur itu bikin Megawati berang, sehingga Wakil Presiden mau bersekongkol untuk mendongkel Presiden. Setelah asset asset itu dijual BPPN, orang-orang yang dulu mendongkel Gus Dur justru yang paling nyaring nyaring suaranya. Hopo tumon?
Komentar oleh intelefone123 — 4 Desember, 2007 @ 8:52 am
Sekarang nampaklah Bang, dari keputusan KPPU yang memberi sanksi denda kepada Temasek pada 19 November 2007, Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mengaku telah dibayar ratusan juta rupiah oleh Altimo perusahaan telekomunikasi asal Rusia, untuk kampanye buy back saham Indosat. Sejak isu divestasi, kasus Indosat memang sarat dengan isu suap dan kepentingan. Bagaimana nurut abang. Thanks.
Komentar oleh malangnet — 10 Desember, 2007 @ 11:51 am