Latar Belakang:
Upaya-upaya untuk meyakinkan STT dan induk perusahaannya, Temasek, untuk mendivestasi saham mereka di Indosat sedang giat terjadi di Indonesia. Sampai dengan saat ini, kedua perusahaan Singapura tersebut belum menunjukkan respon terhadap berkembangnya isu ini.
Analisa:
Kami yakin bahwa strategi yang saat ini dipergunakan Singapura adalah untuk tetap low-profile dan menunggu sampai isu ini tidak lagi merebak di ranah publik. Kami melihat bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi respon mereka.
1. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap kondisi politik di Indonesia
Diperkirakan bahwa data intelijen yang diperoleh Temasek di lapangan masih sedikit. Departemen Corporate affairs Temasek sama sekali tidak memiliki pengetahuan memadai mengenai apa yang terjadi di Indonesia. Permintaan mereka untuk meminta bantuan Konsultan untuk mewakili mereka di Indonesia mengindikasikan bahwa mereka masih mencari-cari pihak yang dapat memberikan mereka bantuan di Indonesia. Ini juga dapat berarti Temasek tidak mempercayai orang-orang mereka di lapangan.
Hal ini sejalan dengan perilaku Temasek di negara lainnya di wilayah Asia, termasuk yang terjadi di Thailand. Temasek secara konsisten terus membuat kesalahan, termasuk salah satunya menyewa kroni Pangeran Mahkota Thailand sebagai penasihat setelah terjadinya kudeta militer di Thailand. Pangeran Mahkota Thailand kemudian membantah adanya hubungan dengan penasihat Temasek sehingga perusahaan asal Singapura itu terpaksa harus mengubah keputusan mereka beberapa hari kemudian. Ini adalah salah satu kesalahan terbesar Temasek. Pangeran Mahkota adalah salah satu tokok yang paling tidak populer di kalangan masyarakat Thailand. Dengan demikian, langkah Temasek yang mencoba untuk mendekatkan diri dengan pusat kekuasaan di Thailand dengan memilih Pangeran Mahkota adalah sebuah kesalahan fatal. Insiden ini menunjukkan ketidaktahuan dan ketidakpahaman Temasek terhadap kondisi politik di negara-negara perusahaan tersebut beroperasi.
Temasek tidak memiliki departemen khusus yang bertugas melaksanakan analisa resiko politik. Hal ini mungkin disebabkan “keluguan” Temasek dalam berinvestasi di negara-negara dunia berkembang, dimana investasi cenderung memiliki resiko politik yang tinggi. Sebelumnya Temasek hanya beroperasi di negara-negara dengan pasar yang sudah maju, seperti AS dan negara-negara OECD lainnya dimana mereka dapat dengan mudah bergantung pada aturan hukum dan kepastian kondisi lingkungan bisnis. Temasek juga selalu menyewa bankir investasi yang semata-mata hanya memperhatikan aspek finansial tanpa melihat aspek politis.
Dengan lemahnya pengetahuan Temasek terhadap karakteristik politik di kawasan, pejabat-pejabat Temasek akan kembali jatuh kedalam stereotip pandangan mengenai Indonesia sebagaimana dijabarkan dalam poin-poin berikut.
1. Berbagai aksi demonstrasi di Indonesia tidak pernah ditanggapi dengan serius
Kebanyakan warga Singapura memandang Indonesia sebagai negara koboi dimana praktik korupsi, nepotisme, kronisme, dan ketidakpastian hukum mempengaruhi setiap perjanjian bisnis. Indonesia juga dipandang sebagai sebuah negara dimana hukum dapat dibeli. Mereka juga melihat Indonesia sebagai sebuah negara yang “kacau” dimana demostrasi terjadi setiap saat. Di Indonesia, bukan merupakan rahasia umum bahwa para demostran seringkali dibayar untuk beraksi di jalan.
Warga Singapura yang tidak pernah menghadapi aksi demostrasi di negara mereka jelas tidak memiliki pengetahuan untuk membaca dan mengukur besarnya dampak aksi demonstrasi di negara-negara Asia lainnya.
Hal ini jelas terlihat di Thailand dimana Temasek meremehkan sentimen “kebencian” masyarakat Thailand terhadap ancaman imperialisme ekonomi Singapura. Poster-poster CEO Temasek, Ho Ching, dan suaminya-yang merupakan PM Singapura-Lee Hsien Loong dibakar di jalan-jalan di Bangkok. Namun demikian, Temasek tetap melanjutkan upaya mereka membeli Shin Corp.
Hal yang sama terjadi di Indonesia dimana Temasek tidak dapat memahami dengan baik besarnya sentimen nasionalistik masyarakat Indonesia.
Temasek yakin bahwa berbagai aksi demonstrasi yang terjadi di Indonesia hanya merupakan aksi sporadis belaka. Mereka juga meyakini bahwa siapapun yang berada di balik aksi-aksi ini tidak harus ditanggapi dengan serius. Sayangnya, tindakan-tindakan FSP-BUMN hanya memperkuat dugaan ini. Sebagai contoh, ketua FSP-BUMN menyatakan kepada Reuters bahwa mereka tidak akan melaksanakan tuntutan pada bulan Desember karena pengacara mereka sedang berlibur. Namun demikian, beberapa hari setelahnya, FSP-BUMN malahan menyerahkan laporan tuntutan ke KPPU. Sebagai tambahan, FSP-BUMN juga turut berpartisipasi dalam demonstrasi anti-SBY baru-baru ini. Kredibilitas dan citra FSP-BUM telah rusak dengan berbagai komentar dan tindakan mereka yang cenderung inkonsisten.
Warga Singapura juga tidak menganggap serius proses hukum di Indonesia dan cenderung skeptis bahwa KKPU akan memulai penyelidikan terhadap mereka. Hal ini juga diperkuat dengan komentar dari KPPU yang mengatakan bahwa mereka masih melakukan penyelidikan awal untuk mencari bukti yang kuat adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Temasek, STT, dan SingTel. Di kalangan warga Singapura terbentuk sebuah opini umum bahwa kasus pelanggaran perusahaan-perusahan Singapura di Indonesia tidak lagi menjadi sorotan KPPU karena tidak adanya langkah yang nyata dari pihak berwenang Indonesia dalam menanggapi kasus pelanggaran tersebut.
2. Langkah-langkah defensif
Sementara itu, STT tampaknya telah mengambil beberapa langkah defensif untuk mengikis dugaan keterlibatan mereka dalam praktik monopoli di Indonesia. Pada pertengahan Januari, Qatar Telecom mengumumkan bahwa mereka membeli 25% saham Asia Mobile Holdings. Asia Mobile Holdings adalah pemegang saham STT di Indosat and StarHub Singapura. STT sebelumnya telah bekerja sama dengan Qatar Telecom untuk memenangkan tender lisense seluler di Mesir. Pada saat ini, aliansi tersebut terlihat menjadi sangat strategis karena selain digunakan untuk memperluas lingkup kerjasama, aliansi ini juga dapat digunakan untuk melemahkan tuduhan perilaku monopoli ST Telemedia di Indonesia.
3. Permasalah di Thailand
Pada akhirnya, kita tidak boleh melupakan bahwa Temasek saat ini sedang disibukkan dengan upaya menyelesaikan kekacauan yang mereka timbulkan di Thailand. Mereka telah mengganti beberapa personal di manajemen tingkat atas perusahaan dan beberapa bankir investasi yang terlibat dalam kekacauan di Thailand. Dengan berbagai perubahan internal dan permasalahan besar yang mereka hadapi di Thailand, Temasek kemungkinan besar tidak memiliki energi dan sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi situasi di Indonesia dan lebih memilih untuk mengambil pendekatan “wait-and-see” dalam perkembangan kasus tersebut.
Kesimpulan
Temasek dan STT tidak melihat adanya kebutuhan untuk segera mendivestasikan saham mereka di Indonesia. Dengan kurangnya pengetahuan mengenai kondisi politik di Indonesia, mereka hanya akan tetap terjebak dalam pandangan stereotip mengenai Indonesia dan hal tersebut akan membawa mereka ke suatu kesimpulan bahwa gejolak yang terjadi pada saat ini tidak serius. Mereka yakin bahwa situasi krisis terburuk di Indonesia telah berakhir; meskipun KPPU belum juga memulai penyelidikan dan kredibilitas FSP-BUMN sangat dipertanyakan. Selain itu, mereka telah mulai mengambil langkah-langkah defensif dengan membentuk aliansi strategis dengan Qatar Telecom. Temasek juga sedang disibukkan dengan kasus di Thailand shingga mereka tidak akan dapat memberikan perhatian penuh kepada Indonesia, terlebih lagi dengan anggapan bahwa ancaman yang dihadapi di Indonesia tidak terlalu serius.
Temasek dan STT kemungkinan akan merasa ragu untuk melakukan divestasi dalam situasi saat ini karena keputusan untuk divestasi pasti akan dipandang sebagai kelemahan dan kekalahan mereka. Temasek and STT juga akan dipandang sangat rentan terhadap tekanan.
Poin Final:
Langkah segera yang harus diambil adalah menggerakkan parlemen. Temasek dan STT tidak akan menanggapi situasi di Indonesia dengan serius sampai adanya proses hukum yang jelas dan kredibel melawan mereka. KPPU tidak akan memulai proses investigasi terhadap Temasek sampai adanya dukungan dari parlemen yang akan membuat Singapura menyadari besarnya dorongan untuk memaksa mereka mendivestasi asetnya. Upaya ini juga sebaiknya didorong dengan adanya penulisan Buku Putih oleh sebuah organisasi yang kredibel.
Sebuah organisasi yang kredibel akan memainkan peran yang penting untuk memenangkan kasus melawan Temasek.
FSP-BUMN adalah sebuah hambatan besar untuk mendorong Temasek dan STT untuk melakukan divestasi. Ketua organisasi tersebut adalah seorang yang telah terbukti tidak kredibel dan mengakibatkan banyak masalah. Hal ini terbukti dengan banyaknya media internasional yang menjadikan ia sebagai nara sumber pemberitaan. Komentarnya baru-baru ini kepada Reuters dan Singapore Strait Times (lihat artikel di bawah) telah membuat FSP-BUMN terlihat sangat tidak konsisten. Kami juga telah menerima komentar senada dari jurnalis asing, salah satunya koresponden dari NY Times, yang telah mencoba untuk menghubungi FSP-BUMN.
Sangat jelas terlihat bahwa Singapura dan media internasional tidak menanggapi FSP-BUMN secara serius. Beberapa demonstrasi dan komentar-komentar yang tidak konsisten yang dibuat oleh FSP-BUMN tidak akan mendorong Temasek untuk melakukan divestasi di waktu dekat.
Perusahaan Asing Berebutan Pangsa Pasar Seluler di Indonesia
Konon beredar kabar bahwa issue monopoli TEMASEK HOLDING terhadap dua perusahaan seluler raksasa Indonesia (baca: TELKOMSEL dan INDOSAT), mulai tercetus dan disebarluaskan pertama kali oleh pihak Malaysia secara diam-diam.
Dahulu Malaysia hendak mencaplok TELKOMSEL dan/atau INDOSAT, namun mereka ternyata kalah cepat dari Singapura. Akhirnya, Malaysia “hanya kebagian jatah” mencaplok EXELCOMINDO PRATAMA (XL), dan menjadikan XL sebagai salah satu anak buah perusahaan mereka; a TM company (TM = Telecom Malaysia).
Dengan semakin kuatnya issue monopoli TEMASEK ini, mereka mengharapkan agar setidak-tidaknya pihak TEMASEK harus rela melepaskan saham-sahamnya dari TELKOMSEL atau INDOSAT. Kemungkinan saham-saham yang akan dilepas tersebut kemudian dibeli, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, oleh pihak Malaysia (selain di bawah bendera TM tentunya) adalah cukup besar.
Mengingat bahwa pemerintahan Malaysia dan kroni-kroninya, sedang gencar-gencarnya giat melakukan aksi “Malingsia” (baca: Malingin Indonesia) terhadap Indonesia semenjak beberapa tahun silam. Dari mulai Ambalat, Sipadan-Ligitan, Batik, Angklung, Tempe, Lagu Rasa Sayange, hingga Tari Reog Ponorogo yang beritanya kini sedang hangat-hangatnya.
Mereka pun berhasrat ingin mendominasi/menguasai pangsa pasar seluler kita (bukan selular = celana dalam, versi bahasa Malaysia). Kalian masih tidak percaya? Biarlah waktu yang akan membuktikannya!
Mari Kita Ganyang Malaysia!!!
MERDEKA!!!
See also:
http://www.temasekholdings.com.sg/media_centre.htm
http://www.temasekholdings.com.sg/pdf/1.%20Background%20summary.pdf
Komentar oleh Ganyang Malaysia — 28 November, 2007 @ 2:37 am
Ingat pada tahun 1984 s/d 1990 negara2 ASIA TENGGARA (Malaysia, Philipines, Singapore dll ) pernah atau sering sewa sirkit (Satelit PALAPA) milik PT. TELKOM waktu itu, tapi kini berbalik menjadi 180 drajat negara-2 tsb. sekarang dapat merebut pertelekomunikasian kita, itu lantaran mereka ingin menguasainya. Betul tidak?
Komentar oleh malangnet — 28 November, 2007 @ 5:32 pm
Ibaratnya binatang, orang Malay lagi birahi-birahinya, nafsunya tak bisa dihalang2i untuk menggagahi negara2 sekitarnya untuk menunjukkan rasa percaya diri dan harga dirinya. Malaysia sudah mulai berani menunjukkan kekuatannya (unjuk gigi-taring) ke negara-negara tetangganya. Orang Indonesia yang mayority bongso jowo yang mempunyai karakter lembut tapi akan berontak pula bila diinjak harga dirinya. Sebagai jiran tak berani lewat depan, malaysia banyak melakukan tikaman2 dari dibelakang, maka tindakannya yang kasar dengan menyakiti hati, mencuri teritorial, pulau2, produk budaya, dan melecehkan martabat. Tapi bagi kita tak perlulah kekasaran ini dilawan dengan kasar pula, sebab bila demikina kita setali tiga uang pula jadinya.
Memang secara kasat mata Malaysia dengan nafsunya terus melakukan gerakan intelijen, hal ini terungkap beberapa saat yang lalu dgn tertangkapnya barang2 kedutaan Malasyia yg berisi alat2 penyadap, alat2 spionase. Ada sinyalemen di malaysia melakukan gerakan intelijen sabotase ekonomi Indonesia, melakukan spionase ekonomi, industri dan investasi. Spionase itu diantaranya untuk men-sabotase masuknya investasi asing, merebut setiap prospek investasi asing agar berpindah ke Malaysia. Sudah berapa banyak perusahaan asing berpindah dari Indonesia dan relokasi ke sana. Ironisnya perusahaan, perkebunan, pabrik2 relokasi itu di Malaysia memperkerjakan TKI kembali, jadi yang berpindah adalah lokasi, dan yg dpt keuntungan devisa, pajak, pertumbuhan ekonomi mereka. Namun perlu kita tengok di dalam negri kita sendiri tak kalah kacaunya, tenaga kerja tak terserap. Peluang inipun dia manfaatkan, pengusaha Malay dg sembunyi2 mereka terima pendatang haram. Itupun disokong oleh toke-toke liar kita, lantas dengan siasat licik cukong-cukong itu tak membayar sesuai kesepakatan sebelumnya. Bila telah jatuh tempo para cukong tadi melapor ke polisi mereka. Para TKI sebagai objek tak dapat berbuat banyak, lataran mereka tidak mempunyai kekuatan hukum.
Disinyalemen juga Malaysia punya interest dgn aksi-aksi terorism yg dilakukan oleh warga negara Malaysia yaitu Dr.Azhari (Azahari), Noordin M. Top di kota-kota besar Indonesia. Malaysia ingin menciptakan ketakutan pihak asing terhadap Islam Indonesia dikesankan beraliran keras, ekstrimis eksis di Indonesia. Sehingga menciptakan image (kesan) Indonesia tidak aman bagi orang asing dan juga bagi investasi asing karena gerakan teror bom tsb. Sedangkan Malaysia dikesankan negara yg stabil, aman, damai, kuat, negara Islam yang moderat, ramah terhadap orang asing. Tapi sebagai orang yang beradab kita menganut norma-norma agama: “Orang beriman adalah apabila jirannya selamat dari olah tangannya”
Ingat kejayaan Adiluhung bangsa Indonesia, kejayaan Sriwijaya, Majapahit, Sumpah Palapa, betapa bangsa Indonesia dulunya punya budaya luhur dan kuat, dan terbukti bisa jadi bangsa yang besar. Tapi sekarang……… tergadaikan.
Komentar oleh menggugat — 28 November, 2007 @ 6:26 pm