Peluncuran BBM RON 90 Justru akan menguntungkan SPBU Asing
Seperti halnya dgn kebijakanan tentang memberlakukan Kompetisi penyelenggaraan jaringan jarak jauh (SLJJ) dengan skema Kode Akses SLJJ.
Rencana pemerintah meluncurkan premium beroktan 90 (RON 90), lagi-lagi juga akan berdampak pada keuntungan pemain asing. Pasalnya, selisih harga bahan bakar tersebut dengan asing semakin tipis, sehingga asing semakin mempunyai peluang untuk menjual lebih banyak lagi.
Seperti diketahui, hingga saat ini, asing menjual BBM non subsidi seperti halnya Pertamax dan Pertamax Plus. Sebelumnya, pemilik kendaraan pribadi mengisi premium (RON 88), kini diharuskan pindah ke premium (RON 90) yang harganya sekitar Rp 6.750, terpaut sedikit dengan Pertamax yang ada dikisaran Rp 7.850, harga ini akan semakin lebih kecil selisihnya, karena harga minyak dunia kini sudah turun di kisaran 88 dollar per barel.
Melihat kenyataan ini tidak menutup kemungkinan, pemilik mobil pribadi khususnya yang ada di Jabodetabek akan pindah ke SPBU-SPBU asing, yang saat ini sudah berdiri di sejumlah tempat di Jakarta dan sekitarnya.
Rencananya pemerintah mulai awal tahun 2008 akan meluncurkan premium RON 90. Tahap awal, distribusinya hanya terbatas pada kawasan Jabodetabek.
Humas Shell Indonesia, Fathia Syarif mengatakan, pihaknya tertarik ikut memasarkan produk premium oktan 90. “Kebetulan Shell punya produk sejenis. Kami akan melihat bagaimana nanti peluangnya setelah pemerintah mulai membatasi pemakaian premium subsidi,” kata Fathia.
Saat ini Shell sudah memiliki 20 ritel SPBU di wilayah Jakarta, Tangerang, dan Depok, yang menjual produk premium oktan tinggi dengan merek Shell Super dan Shell Extra dan solar super.
Sedangkan supervisor SPBU Petronas Lenteng Agung, Alfian mengatakan, apabila peraturan pengalihan bahan bakar diberlakukan, SPBU Petronas akan mendapatkan lebih banyak pelanggan. Hasil pemantauan di beberapa lokasi di Jakarta menunjukkan, para pemilik mobil pribadi lebih percaya menggunakan pertamax yang dijual SPBU asing, seperti Shell dan Petronas,
daripada produksi Pertamina. SPBU asing sendiri akan lebih diuntungkan. Dengan harga yang sama, konsumen mendapatkan kualitas pertamax lebih baik SPBu Lokal.
Sementara itu, meski masih diwarnai perdebatan, namun kalangan pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) lokal (Pertamina) di Jakarta siap menjalankan program pengalihan premium bersubsidi beroktan 88 (RON 88) ke pertamax maupun premium RON 90.
Dari sisi marjin, pemilik dan pengelola SPBU justru lebih senang bila Pertamina memasok lebih banyak pertamax atau premium RON 90, ketimbang premium bersubsidi. Lagi pula, secara teknis, pengalihan premium RON 88 ke premium RON 90 tidak sulit. Tidak perlu mengeluarkan investasi tambahan untuk menambah infrastruktur baru.
“Memang kalau dari sisi volume, akan ada penurunan penjualan, karena premium selama ini merupakan BBM yang paling laku. Tetapi, dari sisi marjin, antara menjual BBM subsidi dan pertamax, jelas marjinnya lebih besar pertamax,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pengusaha dan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DKI Jakarta Haposan Siregar di Jakarta, Sabtu (8/12).
Bagaimana dgn sikap DPR
Sementara itu kabarnya DPR memberi waktu tiga minggu kepada pemerintah memperbaiki rencana pengurangan subsidi bahan bakar minyak dengan mengalihkan pemakaian premium oktan 88 ke premium oktan 90.
DPR menyatakan memahami maksud pemerintah agar subsidi BBM tepat sasaran. Demikian hasil rapat tertutup antara pimpinan Komisi VII DPR RI, Jumat (7/12), dengan jajaran Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas.
Ketua Komisi VII Erlangga Hartarto mengatakan, jangka waktu tiga minggu itu disesuaikan dengan masa reses Dewan. Pembahasan lanjutan dengan pemerintah akan dilakukan pada awal Januari 2008.
Ia mengakui, menaikkan BBM sekaligus maupun dengan cara berkala memang lebih realistis. Namun, itu tidak mungkin karena pemerintah menyatakan tidak akan ada kenaikan.
Berdasarkan bahan paparan Ditjen Migas ke DPR, pemerintah menargetkan bisa menghemat subsidi BBM dengan mengganti 2 juta kiloliter premium oktan 88 dengan premium oktan 90. Penghematan mencapai Rp 5,7 triliun ketika harga minyak mentah Indonesia rata-rata 100 dollar AS. Penghematan itu berdasarkan hitungan, berapa pun harga jual premium oktan 90, pemerintah hanya menyubsidi Rp 500 per liter. Sisanya ditanggung konsumen.
Instansi pemerintah yang terkait langsung dengan program pengalihan premium itu belum satu kata dalam teknis pelaksanaan. Direktorat Jenderal Migas menyatakan tak akan mengatur siapa yang berhak menggunakan premium oktan 88 dan oktan 90.
Ditjen Migas menilai, pembatasan cukup dilakukan dengan mengatur jenis premium yang dijual di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum. Secara bertahap, SPBU di dalam kota hanya akan menjual premium oktan 90 dan SPBU di pinggiran kota akan menjual premium oktan 88.
Selama masa peralihan itu ada empat kategori SPBU, yaitu SPBU khusus premium oktan 88, SPBU khusus premium oktan 90, SPBU yang menjual premium oktan 88 dan premium oktan 90, serta SPBU yang menjual oktan 90, Pertamax, dan Pertamax Plus.
“Kami hanya mengkaji sistemnya. lalu melaporkannya ke menteri, kemudian nanti kan harus dibahas lagi di sidang kabinet. BBM yang subsidinya lebih banyak biar dinikmati masyarakat yang tidak mampu,” kata Dirjen Migas, Luluk.
Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas yang berkewajiban mengawasi pendistribusian BBM bersubsidi menilai, pengaturan SPBU tidak akan efektif tanpa regulasi pemakai. BPH Migas mengusulkan premium oktan 88 dikhususkan untuk kendaraan umum dan kendaraan roda dua. Kendaraan pribadi menggunakan premium oktan 90 maupun oktan yang lebih tinggi. “Pengawasannya akan sangat sulit, selain itu akan terjadi penumpukan kendaraan yang mencari premium oktan 88 ke pinggiran kota,” kata anggota BPH Migas Adi Subagyo. (jef)
|Sari berita dari Surabaya Post Minggu 08/12/2007 jam 14:42:34 |