AREMA

7 Mei, 2007

Siapa peduli Buruh

Filed under: IT, Kebijaksanaan Pemerintah, Teknologi Informasi, Telekomunikasi — ngalam @ 10:43 am

DEMO buruh terjadi di mana-mana, mereka menyampaikan pesan yang gambling sekali. Yakni mereka menginginkan agar pada Hari Buruh, l Mei itu oleh pemerintah (negara) dijadikan sebagai moment atau peringatan, perhatian pada nasib buruh. Pesan tersebut tentu bukanlah rangkaian kalimat hiperbola. Mayoritas buruh di negeri ini memang hidup dalam kesulitan ekonomi. Mereka begitu kerepotan mengalokasikan upah yang rata-rata hanya sekadar memenuhi standar UMR (upah minimum regional), antara Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu per bulan. Sistem di republik ini memang belum sepenuhnya berpihak kepada kaum buruh. Dengan alasan demi menyuburkan iklim investasi di negeri ini, demi situasi globalisasi maka segala aturan yang memudahkan agar rangsangan masuknya investor luar negeri. dibikinlah aturan scenario agar investor dapat leluasa dan nyaman menanamkan modalnya ke negri ini. mereka dapat tumbuh berkembang dengan baik di negri ini. Termasuk, jika harus membuat regulasi yang melemahkan kekuatan kaum buruh. Agar sebuah perusahaan dapat memperoleh biaya yang murah, maka diciptakan pengelolaan dengan system kemitraan outsourching agar tututan buruh dengan mudah dikendalikan persegmennya.

Dari sisi kepentingan mendatangkan investasi, kebijakan itu mungkin benar. Investor luar negeri kendati tidak semaksimal yang ditargetkan mungkin akan datang. Namun, bagaimana dengan nasib kaum buruh yang notabene bangsa sendiri?
Mereka akan semakin marginal. Jumlah mereka akan terus bertambah. Hal itu tentu sangat paradoks dengan program pengurangan angka kemiskinan yang selalu digembar-gemborkan pemerintah.
Mungkin benar, dengan masuknya investor dari luar negeri itu, lapangan pekerjaan cukup banyak. Namun, apa artinya kalau banyaknya lapangan pekerjaan tersebut ternyata hanya kian memperbanyak jumlah kaum buruh yang notabenenya: upah mereka mempunyai nilai paling murah di negri yang gemah ripah ini. Yang arti sebenarnya adalah bahwa tenaga buruh kita adalah paling tidak ada harganya di muka bumi ini.

Apakah memang bangsa ini dicita-citakan agar menjadi bangsa buruh atau bangsa kuli? Kita menyadari bahwa itu bukanlah persoalan mudah. Namun, kebijakan yang terlalu membela kepentingan kapitalis seperti selama ini perlu dievaluasi secara jernih dengan naluri yang berpihak pada yang lemah. Karena perlu diingat, dalam praktiknya, kedatangan mereka banyak yang malah mendorong terciptanya kaum buruh baru. Ingatan kita pada ucapan presiden pertama kita: “Bangsa ini bukan bangsa tempe”.

Maraknya system kelola outsourching seperti supermall, megamall, hypermall atau BUMN yang mempekerjakan buruh diluar core beisnis mereka. Betapa BUMN dapat mempensiunkan pegawainya dengan mudah karena bidang kerjanya telah ditangani oleh mitra. Demikian juga seperti mal-mal yang serba ‘wah’ itu akhirnya menggusur pedagang kelontong dan sembako yang semula bertahan di pasar-pasar tradisional. Akibatnya, banyak di antara para pedagang itu yang kini menjadi buruh, termasuk buruh di mal-mal yang menggusur mereka.

Setelah status mereka berubah (dari pedagang ke buruh), tentu kondisinya kian tak berdaya. Mereka hanya menunggu upah bulanan yang jumlahnya sangat minim. Sementara, kaum kapitalis kian gemuk karena bisa tumbuh dan berkembang tanpa persaingan yang sepadan.
Ekses semacam apa terus berlangsung dan berkembang sampai kapan?. Pembangunan seharusnya tidak semakin menciptakan jurang perbedaan. Sebab, dalam jangka panjang, perbedaan yang mencolok tentu sangat berpotensi menimbulkan gesekan dan ketidak harmonisan sosial.
Karena itu, demi kelangsungan bangsa ini, seharusnya pemerintah punya iktikad baik untuk memberikan perlindungan kepada kaum buruh. Sebab, siapa lagi yang melindungi mereka kalau bukan pemerintah sebagai pilihan rakyat yang dipercaya untuk mengelola negri ini. Sangat tidak masuk akal bila harapan perlindungan itu menggantung pada kaum kapitalis.

Dimensi proteksi kepada buruh itu tentu sangat luas. Bukan hanya penghasilan yang memadai. Namun, bagaimana agar dari rahim kaum buruh itu tidak harus selalu lahir kaum buruh baru yang tidak mempunyai jaminan kedepan. Kaum buruh harus diperhatikan, mereka harus dibantu nasibnya agar mereka dapat hidup dengan layak. Mereka juga sebagai penyambung generasi mendatang, mereka juga butuh pendidikan yang baik kepada anak-anak mereka. Yakni, pendidikan yang terjangkau dari sisi biaya dan terjamin dari sisi kualitas. (*)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: