AREMA

11 Mei, 2007

Masalah Pendidikan

Filed under: pendidikan — ngalam @ 7:46 am

Memperhatikan soal peddidikan, konsen pemerintah kita masih terasa sangat minim. Potret ini tecermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin ruwet. Kwalitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Lhaa…, padahal dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita makin kedepan makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

Berbicara tentang anggaran pendidikan ini memanglah sangat dilematis. Betapa tidak, dalam kenyataannya, permasalahan substansial sebenarnya bukan pada nilai anggaran saja. Hal ini terbukti bahwa meskipun belum sampai pada angka 20 persen APBN dan APBD alokasi bagi anggaran pendidikan, yang pasti meskipun hampir seluruh level pemerintahan telah menaikkan anggaran pendidikannya dari tahun ke tahun.

Pertanyaannya adalah bahwa, apakah kenaikan anggaran itu telah dapat mendongkrak pencapaian hakikat penyelenggaran pendidikan itu sendiri? Belum lagi berbagai fenomena kebocoran anggaran pendidikan, mulai dari masih maraknya pungutan liar dari tingkat perguruan tinggi sampai dengan penyelewengan dana BOS.

Tindakan Menyeluruh

Karena itu, menyelesaikan persoalan pendidikan tidak semestinya dilakukan secara parsial, tapi harus ditempuh langkah atau tindakana yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya konsen pada kenaikkan angaran saja. Sebab percuma saja, kalau kanaikkan anggaran bila masih belum bermuara pada reformasi di tubuh SDM pendidikan baik di tingkat birokrat, penyelenggara dan pelaksana pendidikan di level sekolah. Selain itu, kita juga masih dihadapkan pada persoalan lemahnya daya saing SDM bangsa Indonesia yang dihasilkan. Hal ini dapat kita lihat dari jenjang pendidikan yang berhasil dilaluinya. Dari data statistik pada tahun 2000 menunjukkan, bahwa jumlah penduduk usia kerja sebanyak 144.033.873 orang, hanya 21.699.066 orang atau 15,06 persen saja tamatan SLTA ke atas, selebihnya (122.334.807) orang yaitub 84,94 persen hanya tamatan SLTP ke bawah.

Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak daerah kecamatan pingiran yang tidak memiliki SMPN. Dengan kondisi tsb, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari multikrisis, apalagi bertahan dan menerawang pada kompetisi di era global.

Ada beberapa masalah utama pendidikan kita saat ini yang perlu dicermati, yakni rendahnya kualitas SDM pendidikan dan system pendidikan yang kita pakai. Ironis memang. Satu di antara empat pelajar Indonesia masih belajar dalam taraf menghafal saja. Dimana hanya berbekal hafalan tidak membuat tambahnya suatu kecerdasan maupun tambahnya kedewasaan seseorang.
Membadingkan beberapa negara tetangga: Jepang, Korea, Australia, Thailand atau Malaysia hanya satu di antara sepuluh pelajar di sana yang belajar dalam taraf menghafal. Untuk mengatasi masalah itu, perlu usaha keras dari pelajar, pangajar, dan pemerintah sebagai pemegang berwenang dan mengelola dana. Bagaimana agar pelajar dapat mengembangkan potensi talenta yang dimiliki para anak didik melalui kendali dan control dari guru. Sedangkan pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana ada upaya agar tercukupi. Dengan buruknya sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum kurang efektif, manajemen institusi pendidikan menjadi lemah. Semua itu bermuara pada hal yang substansial, yakni lemahnya kemauan politik pemerintah untuk melakukan reformasi birokrasi dan system pendidikan dan taraf kemampuan SDM pendidikan serta lemahnya kemauan politik pemerintah untuk meningkatkan alokasi dana pendidikan yang memadai dengan meletakkan pembangunan pendidikan sebagai perioritas pertama.

Ada beberapa strategis yang semestinya dapat kita lakukan untuk mengadakan reformasi kearah pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan:
• Pertama bagi yang berwenang segera menyusunan Sistem Pendidikan Nasioanl (SPN) yang komprehensif dan aplikatif. Dengan sistem yang komprehensif, diharapkan proses dan praktik pendidikan mengalami perbaikan berkelanjutan pada semua aspek dan perangkatnya. Sistem yang aplikatif mampu mendorong proses pendidikan bermutu demi peningkatan daya saing bangsa serta pada saat yang sama bisa mendorong terbentuknya manusia Indonesia seutuhnya. Tidak terjebak pada persoalan-persoalancabang semata, semisal polemik unas yang berkepanjangan, tanpa memperhatikan esensi fungsi Ujian Nasional itu sendiri.
• Berikutnya, dengan menyelesaikan program Wajib Belajar 9 Tahun dan meningkatkannya menjadi Wajib Belajar 12 tahun. Implikasi dari kebijakan ini adalah pemerintah wajib menyediakan segala fasilitas demi terpenuhinya kesempatan belajar bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang pernah terlaksana sebelumnya.
• Selain itu dengan meningkatkan kesejahteraan dan penghargaan terhadap peran guru sebagai pilar utama pendidikan dan pembangunan bangsa. Posisi guru dan pendidik harus dihargai sebagai profesi yang mulia. Namun, peningkatan kesejahteraan guru ini tidak hanya meningkatkan gaji saja, melainkan pada saat yang sama mutu pendidikan harus lebih meningkat. Tanggung jawab sejauh mana control guru terhadap murid, terhadap proses belajar mengajar. Apakah anak didik telah mampu menerima materi yang disampaikan hingga dapat bermanfaat sebagai bekal hidup dan matinya. Yaitu dapatkan ilmu yang disampaikan bisa men-generate kecerdasan, kemampuan serta mental yang lebih baik. Karena itu, sistem penggajian harus dikaitkan dengan peningkatan kinerja dan kepribadian pengajar.
• Dalam amanat pasal 31 ayat (4) Perubbahan UUD 1945 tentang alokasi anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD secara efektif dan efisien yang disertai peningkatan pengawasan penggunaan anggaran pendidikan, agar tidak mengalami penyimpangan dan kebocoran.Terobosan dalam kebijakan perpajakan bisa dilakukan dengan menyediakan Rekening Khusus untuk Dana Pendidikan sehingga jatah penerimaan negara dapat disalurkan sebagaimana mestinya. Selain itu juga, pengeluaran swast masyarakat dalam pengembangan pendidikan bisa ditetapkan sebagai Diskon Pemotongan Pajak. Kebijakan ini selintas dianggap mengurangi penerimaan pajak, namun secara makro justru mengalokasikan pajak sesuai dengan amanat konstitusi serta membuka luas partisipasi swasta.
• Memperhatikan efektifitas proses pendidikan dalam menanamkan jiwa kebebasan serta kemandirian melalui peningkatan keterampilan hidup (life skills) dan daya juang (adversity quotient) peserta didik. Kurikulum diarahkan kepada pengembangan pengalaman belajar yang seimbang dari aspek intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Sehingga terciptalah suatu kecerdasan bagi peserta didik yakni kecerdasan dalam bertindak yang bersumber dari inner power. Kecakapan hidup dalam kemandirian dapat tumbuh kembang secara alami dalam linkungan sehat yang relevan dengan kebutuhan mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Maka akan terbentuk suatu kesadaran untuk tidak melakukan kecurangan dalam belajar.

Demikian, sekedar masukkan bagi yang mau konsen terhadap mutu pendidikan di negara kita. Negara yang tidak kurang dari suatu apa tapi warganya menemui banyak problema. Mudah-mudahan tulisan ini dapat berguna dalam melakukan perbaikan mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan dapat menuju reformasi pendidikan yang mampu dan mempunyai nilai saing yang handal dengan siapapun.

2 Komentar »

  1. gak bisa dipercepat hasil num nya?
    truz banyak yg lulus t?
    smp 5 malang lulus kan?

    Komentar oleh reza — 24 Mei, 2007 @ 8:43 pm

  2. Kapan NUM SMP diumumkan?
    Apa semua siswa SMPN 5 Malang lulus?

    Komentar oleh Rosyi — 12 Juni, 2007 @ 10:47 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: