AREMA

8 Agustus, 2007

Masih Layakkah system SPMB yang ada saat ini

Filed under: pendidikan — ngalam @ 7:09 am

PTN merupakan acuan untuk melanjutkan program studi ke tingkat strata satu. Banyak argumen yang mengatakan bahwa PTN itu lebih baik daripada perguruan PTS. Dengan kata lain, PTN dianggap lebih mempunyai political prestige daripada institusi pendidikan yang lain. Tapi, argumen ini perlu kita teliti lebih lanjut. Sebab, kondisi PTN disinyalemen telah mengalami pergeseran nilai edukasi. Coba kita pikir, seleksi masuk PTN melalui SPMB sepertinya hanya sebagai kamuflase agar mesyarakat mempunyai anggapan bahwa seleksi masih ada transparansi, tanpa adanya KKN. Tapi coba kalau kita cermati bahwa seleksi yang diterima melalui SPMB tidak lebih dari tiga puluh persennya saja yang menjadi pagu di setiap Perguruan tinggi. Sistem SPMB itupun masih dapat ditembus dengan cara pendekatan ke pihak yang mempunyai wewenag menyisipkan hasil seleksi. Dan selebihnya masih banyak melalui jalur khusus yang menopang pada program seleksi mahasiawa melalui kemitraan atau apalah namanya. Demikian juga menurut mas Sadikin
Melalui tawar menawar tanpa rasa segan Dekan atau Pembantu Dekan secara terang terangann mematok harga minimmun bila calon mahasiswa dapat diterima, namun coba kita hitung berapa banyak dana yang diperoleh dengan cara demikian itu. Yang jelas dunia pendidikan kiata telah diwarnai olah sifat komersial, dengan dalih mereka harus lebih otonom dalam hal pembiayaan. Untuk menanggulangi pembiayaan peluang jalur jalur khusus telah diperkenankan.
Seperti yang diungkapkan dari koran Kompas, disinyaliri oleh Mantan Menteri Riset dan Teknologi AS Hikam bahwa cara ini memalukan. Komersialisasi dalam kebijakan beberapa PTN atau PT BHMN yang membuka jalur-jalur baru (khusus) dengan nama beragam, tetapi menggunakan mekanisme yang sama. Dalam hal ini, melalui tes atau ujian dan persyaratan khusus berupa satuan harga yang disesuaikan dengan jurusan yang dipilih. Jika hal itu terjadi, sebuah anekdot : yang sering kita dengar “orang miskin dilarang sekolah” benar-benar terjadi. Sebab, secara logika, hanya orang orang mampu dalam hal perekonomian yang mencapai proses tersebut.

Kekhawatiran juga muncul dari seorang Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Soetandyo Wignjosoebroto bagi para peserta didik yang masuk melalui jalur khusus akan berpikir dan bersikap pragmatis. “Lantaran sudah membayar mahal, mereka lalu kuliah seadanya saja dan menuntut untuk cepat lulus. Saya melihat kecenderungan seperti itu nantinya akan terjadi di beberapa BHMN”

Tentu saja, itu bertolak belakang dengan perkataan Baringtoon Moore, seorang pakar kajian demokrasi. More mengatakan bahwa “no education no democracy” atau tidak ada pendidikan tidak ada demokrasi.

Hal itu juga dikatakan Action, salah seorang tokoh bangsawan Inggris yang memiliki ketekunan dalam kajian demokrasi. Menurut Action, di negara yang masyarakatnya tidak berpendidikan cukup memadai, di sana ada peluang dan kesempatan terjadi penyelewengan dan penyalagunaan kekuasaan yang sangat besar atau abouse of power.

Perlu adanya dekonstruksi dari perspektif postmodernisme yang mengatakan tentang genealogis kekuasaan. Perspektif itu menentang pemikiran modernisme, bahwa power a.kan menciptakan knowledge. Tetapi, perspektif postmodernisme beranggapan bahwa knowledge juga bisa menciptakan power. Yang menjadi pertanyaan adalah di mana letak hubungan antara perspektif postmodernisme dengan kegagalan SPMB di PTN?

Kegagalan calon mahasiswa memasuki dunia perkuliahan di PTN melalui SPMB kadang menjadi persoalan tersendiri. Setidaknya, ada beberapa hal yang perlu rekonstruksi ulang dalam memaknai PTN tersebut. Pertama, selama ini banyak pemikiran yang beranggapan bahwa PTN akan menghasilkan lulusan yang sangat mudah untuk mendapatkan akses, baik dalam pekerjaan maupun dalam berbagai hal.
Main point yang sering terbangun di masyarakat adalah ketika diterima di PTN, cepat lulus dan cepat dapat kerja.
Pemikiran-pemikiran seperti itu mengendap lama tanpa ada upaya-upaya untuk menyadarkan masyarakat dalam memaknai sebuah institusi pendidikan.
Foucault menyatakan, “anggapan anggapan di atas” disebut dengan power sehinigga menciptakan sebuah pandangan dalam sebuah konsep pemikiran.
Kedua, rekonstruksi arti dari perguruan tinggi negeri yang selama ini mempunyai prestige yang sangat tinggi. Orang sangat bangga ketika memasuki PTN yang terkenal, padahal apa yang terjadi di sebuah institusi tersebut tidak sepenuhnya dapat dibanggakan.
Yang perlu kita pertanyakan sekarang adalah: siapa sich yang membuat prestise itu makin mengental? Tentunya, ada beberapa pihak yang selama ini sangat diuntungkan. Sifat prestige itu, setidaknya sudah mempengaruhi jalan pikiran para calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya. Tidak ayal, para calon mahasiswa yang tidak lulus ujian SPMB mengalami tekanan mental yang cukup berat.
Di negeri jiran, Singaspura atau Malaysia merupakan negara yang telah memberikan keleluasaan bagi pihak asing untuk mendirikan institusi pendidikan. Kebanyakan investor dari negara-negara Eropa, seperti Ingris, dan Amerika. Mereka memiliki konsep pendidikan yang lebih maju dalam sains dan teknologi.
Kemudian, pertanyaannya: Bagaimana dengan di Indonesia?
UU penanaman modal asing memberikan jalan masuk bagi investor untuk merambah bisnis dunia pendidikan. Masih banyak perdebatan mengenai UU tersebut. Sebab, masih meninggalkan persolaan,berupa dampak negatif dan positif.
Dampak negatifnya adalah praktis hanya orang-orang yang berkecukupan yang akan menikmati bangku kuliah. Tetapi, hal itu masih bisa diminimalisasi dengan cara program beasiswa atau dengan kebijakan pemberian kuota bagi kaum yang tidak mampu untuk menikmati perkuliahan di perguruan tinggi swasta yang dimiliki pihak asing. Keterlibatan pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang mampu menyediakan political goods (Cornelis Lay dan Pratikno) dalam memberikan pelayanan bagi rakyat. Khususnya, memberikan jaminan pendidikan.
Dampak positifnya adalah terbuka pilihan bagi setiap calon mahasiswa untuk menentukan pilihan. Itu merupakan peluang sekaligus tantangan bagi perguruan tinggi swasta.

Thanks buat:
Mas Budi Ali M

2 Komentar »

  1. masih dong. kalau nggak pakai apa ngukurnya ?

    Komentar oleh anggara — 18 September, 2007 @ 3:16 pm

  2. Sorry mas Anggara, Judulnya semestinya “Masih Layakkah system SPMB yang ada saat ini”, kata-2 yang ada seharusnya disertakan. Sehingga judulnya tidak terkesan system SPMB tidak diperlukan lagi.
    Yang dimaksud tulisan ini adalh keprihatinan pada system SPMB yg diterapkan, dimana caranya telah terkontaminasi adanya komersialisasi (mencari peluang) pada SPMB rata-rata PTN di Negri tercinta ini.

    Komentar oleh malangnet — 26 September, 2007 @ 9:17 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: